Jangan jual AGAMA demi kepentingan politik, kekuasaan serta isi tali perut dan demi memenuhi hasrat pribadi dan kelompok.

Memang sich ya,harus diakui bahwa AGAMA tidak memiliki INDIKASI untuk punah dari BUMI ini. Lihat saja dari waktu ke waktu cerita tentang AGAMA tidak pernah usai. Dan yang pastinya setiap “OROK” yang lahir hampir semua langsung disodorkan dengan identitas beragama.

Jadi sebagian besar orang memilih mempercayainya, memang mereka dibuat seolah-olah tidak punya pilihan lagi. Padahal jika kita menengok kebelakang, sejarah mencatat : banyak terjadi pembunuhan massal hanya untuk menegakkan AGAMA.

Dulu saya selalu bertanya dan minta penjelasan lebih KONKRET kepada guru NGAJI saya >> lantas apa yang kita bisa pegang jika permulaan hingga perjalanan AGAMA saja dimulai dengan penumpahan darah ust, bahkan merenggut jutaan nyawa? Dan hal seperti itu akan terjadi sampai kapanpun bukan? Eh … Pak ustad nya malah bengong,mungkin dibenaknya dia ngedumel : ini anàk sok2 an ngasih pertanyaan, ngaji saja kagak katham2. 

Orang percaya cerita SURGA itu seperti bisnis, ada permintaan ada pemberian, ada pemberian ada pengembalian… Iya kan?
Harusnya dipertanyakan lagi, bagaimana bisa TUHAN membutuhkan kebaikan manusia? Apakah Dia kekurangan, bahkan haus kebaikan manusia?
Kalau begitu PECANDU AGAMA ini terlalu NAÏF, menganggap TUHAN begitu membutuhkan kebaikan. Lucunya juga ada yang membela AGAMA; seperti membela Tuhannya.
Kalau memang ketakutan selalu berhasil, lantas kenapa kejahatan semakin menjadi hingga saat ini? Bukankah berbuat jahat itu beresiko dikutuk TUHAN?
Berarti AGAMA manapun yang mendoktrin orang-orang dengan ketakutan telah GAGAL donk!

Sebagai warga negara yang baik lalu apa yang harus kita lakukan? Saya sarankan, kita semua bersama-sama bersikap kasihan terhadap para POLITISI yang sudah GAGAL>> JUALAN AGAMA demi misi politisnya, atau siapapun dibalik itu semua yang sudah gagal (lagi) memecah belah bangsa Indonesia hanya karena kepentingan.

Karena kita adalah bangsa yang sudah kenyang dipecah belah, dan kini sudah lebih dewasa mensikapi kepentingan politik yang gemar membungkus misinya dengan issu-issu SARA.

Wiradesa, 01 September 2017
22.51.

PuCa