Apakah AGAMA dan beragama menjamin perilaku benar dan baik?

AGAMA adalah pedoman bagi setiap individu untuk berperilaku baik dan benar. Namun, AGAMA bukan satu-satunya alasan orang berbuat baik dan benar kalau menurut saya.

Pemahaman orang mengenai AGAMA, dapat saja terjebak hanya sebatas simbol-simbol semata. Atau, berAGAMA selalu dilihat dalam keformalannya, aspek kulitnya, tanpa menembus kedalaman hakiki dari AGAMA itu sendiri.
Sampai pada taraf tertentu, AGAMA dapat menjadi seperti sebuah BARANG ANTIK. Orang tertarik pada ritual-ritual keagamaan hanya sebatas sebagai sebuah kesenangan REKREATIF yang dibungkus dengan muatan-muatan kepentingan yang lain. Misalnya muatan sosial, supaya orang dilihat sebagai orang yang saleh, rajin, baik. Hal itu didukung pemahaman sebagian besar masyarakat Indonesia yang melihat seseorang itu baik atau tidak berdasarkan pada seberapa rajin orang itu mengikuti ritual-ritual keagamaan dan seberapa banyak simbol-simbol agama yang dikenakan.

Di INDONESIA penduduknya saat ini 84% beragama Islam. Lalu 8% Nasrani, lalu 3% Hindu-Buddha, 0,001% Yahudi dan Zoroaster. Dan 1% beragama Konghucu. Dan sisanya agama-agama lain dan kepercayaan. Tetapi Indonesia menjadi negara salah satu peringkat ke-4 di dunia soal KORUPSI. Kan ironis banget bleh. Lalu apa artinya? Nah loh 

Pasti terus akan ada yang bilang dan ngasih WARNING >> Mbok jangan menyalahkan agama. 
Dan orang beragama tidak menjamin berperilaku baik dan benar toh. Lalu? Hanya yang beragama sesuai dengan fitrah kemanusiaan dan ketuhanan yang bisa berperilaku baik dan benar.

Intinya sederhana sich >>beragamalah engkau dengan AGAMA apapun disertai dengan pemahaman ketuhanan dan kemanusiaan. Dengan demikian akan ada keseimbangan antara berkehidupan dengan manusia dan dengan TUHAN. 

Wiradesa, 31 Agustus 2017
10.02 am

PuCa