Ah, percuma SEKOLAH.

Dalam obrolan tamu yang berkunjung hari ini, saya ikut tertarik untuk bergabung kala yg dibahas adalah OBROLAN masalah sekolah mahal. Dan saya agak terperanjat dengan komentar tamu papa tsb, bahwa sekolah mahal itu biasa, pendidikan memang mahal. 
Lalu, saya kejar dia bagaimana dengan si miskin, pastilah dia tidak bisa memperoleh pendidikan yang baik, bahkan bermimpi untuk masuk sekolah-sekolah favorit. Jawaban tamu tsb membuat saya saya kaget, “Sekolah unggulan itu bukan untuk si miskin mbak, “Untuk mereka sudah ada pos-nya tersendiri” (maksudnya, untuk si miskin sudah ada sekolahnya sendiri). 

Dalam percakapa itu ada beberapa point’ yang saya benarkan sich

… Katanya : Lulus dengan nilai bagus membuat kita sukses di masa depan dan bahagia. Tapi buktinya, bahagia dan sukses tidak selalu sejalan bersama dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan nilai.
Percuma sekolah.

Katanya: belajar PPKN supaya mengerti TOLERANSI, tapi apa buktinya? RASIS dan anti KAFIR malah marak di INDONESIA.
Percuma sekolah.

Katanya: PENDIDIKAN harusnya seperti OKSIGEN yang di akses semua MANUSIA. Tapi buktinya yang KAYA dapat akses EKSKLUSIF dan si miskin mengejar kata EKSKLUSIF saja >> blah bloh 😁
Percuma sekolah …

Dalam hati saya berdoa, semoga tidak banyak orang tua Indonesia yang berpikiran seperti ini. Yang saya sayangkan: tamu papa ini kelihatan bukan orang yang tidak terdidik.
Lalu, mengapa ketidakpedulian itu muncul? Saya kira, banyak faktor yang menyebabkannya orang tua berpikiran demikian. Salah satunya adalah karena kebijakan privatisasi pendidikan dengan membuat sekolah bertaraf nasional dan internasional. punya jatah sekolah yang lain yang serba sederhana fasilitasnya.

Ah, manusiawi memang! Tetapi, manusia berakal seharusnya ngga gitu-gitu amat pola pikirnya!

Mgtn, 01/07/2017
10.55 am

PuCa