Surat CINTA buat para pemuja ku.

Dan menjawab tentang INBOX NYASAR yang sering masuk akhir2 ini tentang kenapa saya selalu mengkritik “ISLAM”?
Tak jawab yo Pak, Om, Pakdhe dan Tante yang AGAMIS tapi demen MISUH-MISUH dan menganggap KAFIR orang yg tdk sepaham seperti saya ini… Monggo di waos sambil ngopi nggak usah sambil ngeluarin vedang atau Ventungan ya. šŸ˜šŸ˜

Pertama : dalam pandangan saya, jikalau masih saja ada orang yang MARAH dan SENSITIF ketika ajaran, DOKTRIN atau PRAKTIK keagamaannya dikritik, maka sesungguhnya ia masih berada pada tahap-tahap PUBERTAS dalam BERAGAMA, beragamanya tidak lebih dari sekedar antara PERTALIAN EMOSIONAL dan PSIKOLOGIS belaka, belum pada levelan beragama yang riil dan manusiawi… hihihi ojo ngamuk-ngamuk. šŸ˜‰
Dan yang patut di ingat, MEREKA-MEREKA yang MARAH dan EMOSI ketika ada yang bicara soal KEBENARAN maka sesunggunya mereka semua itu masih hidup dalam KABUT KEBOHONGAN…nggak nyindir lho aku.

Kesimpulannya: kebebasan berbicara adalah keniscayaan, sedangkan larangan terhadap KRITIK AGAMA adalah PEMBODOHAN POLITIK, sebab SARA (suku, etnis dan ras) dengan AGAMA adalah dua DIKOTOMI yang sangat berhubungan.
Dan yang patut diingat, bebas berbicara adalah hak yang dijamin penuh dalam KONSTITUSI maupun HUKUM HAM INTERNASIONAL.

Tujuan saya bebas berbicara soal AGAMA adalah agar orang-orang INDONESIA tidak lagi TABU dan HARAM berbicara soal LINTAS AGAMA.
Sebab KONSEP dan NILAI-NILAI AGAMA dalam sebagian besar pandangan bangsa INDONESIA seperti sudah menjadi NILAI-NILAI ABSOLUTISMUS yang kebenarannya tidak bisa diganggu gugat.

Ketika KEBENARAN tersebut sudah dianggap MUTLAK dan ketika ajaran dalam AGAMANYA dipaksakan untuk menjadi ATURAN HUKUM PUBLIK oleh pemerintah berkuasa, maka akan ada sekelompok manusia-manusia PURITAN dan FANATIK dari salah satu AGAMA tertentu (biasanya berasal dari kalangan MAYORITAS) yang akan melakukan PEMBENARAN dengan kesewenang-wenangan, kekerasan, pembunuhan dan pemboman terhadap kelompok yang berbeda keyakinan (MINORITAS).

Kelompok EKSTREMIS inilah yang harus dilawan, tetapi ketika kita sadar bahwa kita tidak mempunyai kekuatan, dan juga sadar bahwa kelompok dari KALANGAN MODERATNYA lebih banyak yang MASA BODOH dan TIDAK PEDULI, maka satu-satunya cara adalah dengan MENULIS atau BERSGITASI di MEDIA SOSIAL secara MASSIF dan RADIKAL, tujuannya biar semua orang minimal yang berteman dengan saya bisa baca, ngoten lho. šŸ˜‚šŸ˜‚
(Mereka yang sadar akan kemanusiaannya pasti akan BEREMPATI, dan mungkin akan melakukan gerakan-gerakan kecil untuk MERUBAH pandangan pribadinya dalam memandang perbedaan).

#Saya meyakini bahwa jika ingin melakukan PERUBAHAN maka perlawanan paling sulit adalah melawan APATISME (KETIDAKPEDULIAN).

Wiradesa, 17/05/2017
18.59

RPAC