Menjadi MANUSIA yang BERMANUSIA.

Jika AGAMA mengajarkan orang untuk saling menghormati satu sama lain, maka REALITASNYA berbicara berbeda. Pada titik ini, ada jarak yang cukup besar antara AJARAN dan TINDAKAN. Sering kita disuguhkan dan sudah melihat betapa besar PERAN AGAMA dalam menebarkan kebencian, membangkitkan salah pengertian, dan menciptakan KONFLIK yang berlarut.
Harusnya setiap MANUSIA yang hidup di dunia ini sudah sepantasnya dinilai dengan STANDAR atas apa yang dia perbuat atas orang lain.

Maka itu sejak dulu saya diajarkan sama ORTU untuk tidak menempatkan AGAMA atau ATRIBUT yang melekat dengan AGAMA sebagai STANDAR TERTINGGI untuk dapat menilai kebaikan manusia.
Nah, ketika manusia condong MENGUTAMAKAN AGAMA ketimbang hukum maka lahirlah MASYARAKAT AGAMIS dimana nilai-nilai AGAMA diterjemahkan ke dalam HUKUM. Apa yang tidak sesuai dengan nilai AGAMA maka MANUSIA tersebut tergolong SESAT. 😂😂

Lihat saja akhir-akhir ini yang terjadi di INDONESIA>> ada GERAKAN MASIF dan TERSTRUKTUR untuk membentuk OPINI bahwa MANUSIA yang paling MULIA itu adalah MANUSIA yang BERAGAMA. Seolah-olah ketika manusia sudah beragama, beribadat taat, meng-ekspos ketaatan tersebut maka manusia itu LAYAK ditempatkan sebagai PEMEGANG STANDAR terhadap manusia lainnya.

MANUSIA dengan tipe ini adalah manusia yang memiliki hak “PREROGATIF” langsung dari Tuhan untuk membuat standar baru. Mereka berhak untuk menerjemahkan tulisan WAHYU TUHAN. Mereka berhak untuk mengatur TINGKAT KEIMANAN seseorang. Mereka berhak untuk berkata dan bertindak atas nama Tuhan. Mereka berhak untuk berada di jalan kebenaran versi Tuhan mereka. Pun, mereka berhak untuk TIDAK TUNDUK kepada HUKUM sebagai sebuah KONSENSUS bersama. Ya salam….. 😂

HUKUM hanya berlaku bukan untuk mereka. HUKUM bagi mereka adalah sebuah SARÅNÅ untuk MEMBENARKAN TINDAKAN mereka. Mereka memilah >>> HUKUM mana yang berhak untuk tidak dipatuhi dan HUKUM​ mana yang boleh untuk dipatuhi sepanjang sesuai dengan keyakinan mereka. Mereka adalah TUHAN bagi kaum mereka sendiri.

Mirisnya, mereka melakukan ini atas nama MEMBELA AGAMA. Atribut KEAGAMAAN digunakan untuk pembenaran bahwa mereka mewakili TUHAN di dunia. Seolah-olah TUHAN hanyalah sebuah OBJEK yang harus dibela di dunia ini.
Apapun yang mereka rasa menghina TUHAN versi mereka dan ajarannya layak untuk dibunuh dan DARAHNYA HALAL untuk dicurahkan di dunia ini. .. ngeri amat yak!
(….kenapa kita begitu mudah terjebak dalam suatu PENAFSIRAN yang sempit?)

Ketika saya harus menilai TIPE MANUSIA ini maka harus saya katakan bahwa : ini adalah MANUSIA yang SESAT jalannya. Persis seperti MONYET yang kehilangan arah. 😂
Apapun AGAMAnya ketika anda tidak dapat menjadi sebuah PRIBADI yang berguna dan bermanfaat bagi manusia lain maka anda bukanlah MANUSIA YANG BAIK.
Bukankah tujuan beragama adalah menjadikan manusia sebagai makhluk yang dapat BERSOSIALISASI dengan manusia lainnya dan menjadi MANUSIA yang BER- MANUSIA.

Saya percaya bahwa orang baik dapat lahir dari AGAMA apapun. Setiap AGAMA memiliki orang baiknya sendiri-sendiri.
Namun ketika orang baik ini menggunakan ATRIBUT AGAMA untuk menjadi baik bagi kaumnya sendiri dan menjadi BUAS bagi kaum yang TAK SEAGAMA atau BERTENTANGAN dengan mereka maka orang itu bukanlah orang baik sama sekali.

Hidup atas AGAMA memang penting namun hidup ATAS NAMA KEMANUSIAAN akan membawa MANUSIA ke dalam sebuah kebaikan yang UNIVERSAL lebih penting lagi.
Sudah seharusnya mulai berpikir apakah ketika kita sudah beragama, kita juga sudah menjadi MANUSIA yang baik untuk SESAMA MANUSIA lainnya?

#Jangan jadikan AGAMA sebagai sebuah PEMBENARAN akan tindakan tidak manusiawi kita.

Wiradesa, 02 Mey 2017
16.16

RPAC