Jualan “AGAMA” menjanjikan FULUS.

Maka tidaklah salah jika ada pertanyaan, mengapa negara MENTOLERIR berdirinya Ormas-ormas Radikal? Salah satunya, karena anggota ā€“ anggota Parlemen nya sendiri yang memposisikan AGAMA sebagai alat untuk mengamankan kepentingan pribadi dan kelompok.

Ibarat kata AGAMA itu layaknya candu, hal itu pula yang menjadi titip kelemahan sasaran empuk pukulan keras, yang diberdayakan (lebih tepatnya dipakai) oleh negara (oknum). Mereka MENJUAL AGAMA demi kepentingan politik, bahkan tak jarang telah terikat kontrak tertentu, menandatangani DEAL-DEAL, saling menjanjikan keuntungan dengan kelompok-kelompok yang membantu perebutan PANGGUNG KEKUASAAN di pemilihan dan memegang peranan penting di pemerintahan. Sebagai IMBALAN JASA kepada kelompok tadi, kepala terpilih akhirnya mengeluarkan kebijakan-kebijakan DISKRIMINATIF terhadap kelompok MINORITAS namun menguntukan bagi kelompok MAYORITAS.

Bagi masyarakat cerdas MENJUAL AGAMA untuk kepentingan POLITIK seperti ini adalah sama dengan MEMPERMAINKAN AGAMA. Menurunkan derajat keagungan AGAMA itu sendiri. POLITISASI AGAMA dapat merusak kesucian AGAMA itu sendiri.

Lalu, masihkah kita percaya dengan para PEMIMPIN yang menggunakan AGAMA sebagai alat meraih dan mempertahankan kekuasaan?

Wiradesa, 01 Mei 2017
12.03

RPAC