INDONESIA ku adalah NKRI bukan negara Dakwah Keagamaan.

Rentetan peristiwa kemarin, memberi ruang yang cukup luas bagi kelompok RADIKAL yang selalu bersuara sangat vokal dan pintar untuk menggugah EMOSI keagamaan.
Kehadirannya cukup terasa di hati umat Islam terutama yg sepaham dg ajaran-ajaran mereka tentang Daulah Khilafah.

Bisa dilihat: di sela-sela simpati atas mereka, datanglah para TOKOH POLITIK dan KEAGAMAAN yang memanfaatkan itu sebagai umpan untuk meraih dukungan suara di masa Pilgub DKI nanti. Untuk meraih massa, tokoh-tokoh yang memberi dukungan dan bantuan advokasi hukum itu tidak 100% demi membela AKIDAH agamanya. Bagi pihak ini, yang ada adalah kepentingan untuk memulai mencari celah baru dalam merebut massa. Pihak tersebut berupaya mendulang emas dan mencuri kesempatan di atas tindak kekerasan yang sebetulnya cacat niatnya dan INKONSITUSIONAL.

Perhatikan saja >> DAKWAH yang menjadi tren belakangan ini dibungkus dengan penyederhanaan masalah agama. Untuk menjadi penganut agama yang baik, umat yang patuh tidak membutuhkan kesadaran yang tinggi dan penalaran yang berliku-liku. Cukup dengan praktis melaksanakan ritual, membela agama, sekaligus menggunakan simbol-simbol berbau agama, otomatis akan dianggap saleh. Termasuk, misalnya, memilih partai yang berafiliasi dengan simbol keagamaan. DAKWAH semacam ini terus menguat dengan munculnya pemeriahan yang berbunga-bunga atas “SYARIAHISASI”.

Bangunan dakwah mereka didirikan dengan upaya meraih massa. Penyederhanaan terjadi dalam praktek keagamaan, yaitu MERAIH SURGA dan menghindari NERAKA, sekaligus tetap bahagia di dunia dan akhirat. Karena itu, metode yang berkembang ialah jauh dari INTELEKTUALISASI yang membutuhkan nalar dan jam terbang pemahaman yang tinggi.

Aktor-aktor INTELEKTUAL DAKWAH semacam ini bergerak dengan mengerucutkan permasalahan dan doktrin-doktrin agama menjadi nilai yang sangat praktis dilakukan, memberikan manfaat, dan menyebarkan efek PLASEBO yang menyuntikkan imajinasi kebenaran dan kejahatan dalam diri mereka. Secara sederhana mereka, misalnya, menyuntikkan pemahaman “MEMBELA AGAMA dan MENOLAK KEJAHATAN”–baca: membela Islam dan mengutuk kekafiran–untuk digunakan sebagai pemantik bagi eksistensi kelompoknya.

Di sini, ISLAM digunakan sebagai simbol dalam cara dakwah mereka. Padahal, siapa yang tahu Islam sebagai ajaran Tuhan berpihak kepada mereka? Mereka hanya berpikir bahwa mereka bagian dari “JIHADIS” dan tentara Tuhan, karena itu, wajar mendirikan gerakan PARAMILITER beserta susunan komando yang ada. KEKERASAN bahkan bisa dibenarkan (miris sekali).

Dalam pengaruh suntikan ini, massa digiring ke arah “KEBENARAN” dan pemihakan terhadap RADIKALISME dan FUNDAMENTALISME. Metode penyederhanaan dakwah merupakan cara yang ampuh untuk menggaet massa demi penyebarluasan ajaran-ajaran Islam praktis, menggugah simpati dan emosi, sekaligus bisa menggerakkan dorongan atau motif politik. Kini, penyederhanaan itu bahkan telah mencapai akar rumput persoalan, yakni berusaha meyakinkan masyarakat untuk membangun masyarakat yang bersih, ekonomi yang adil, sekaligus sejahtera.

#Karena itu, banyak tokoh dan lembaga yang memanfaatkan isu seputar kejadian AHOK itu sebagai umpan yang baik untuk mendapatkan partisipan. Kapitalisasi dan politisasi rentan mengikat hal ini dan umat banyak yang tidak menyadarinya sebagai manuver dan manipulasi.

PuCa